2 atlet angkat besi

2 Atlet angkat besi Indonesia raih medali perak di Olimpiade Brazil

Selasa, 9 Agustus 2016 14:45 Reporter : Ya'cob Billiocta
Sri Wahyuni di Olimpiade 2016. ©REUTERS
Merdeka.com - Dua atlet angkat besi, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan berhasil mempersembahkan mendali untuk Indonesia di Olimpiade 2016, Rio de Janeiro, Brazil. Sri memperoleh mendali perak di angkat besi putri kelas 48 kg, Sabtu waktu Indonesia. Sementara Eko mendapat medali perak pada cabang angkat besi kelas 62 kg, Selasa.

Sri Wahyuni mencatat total angkat 192 kg, sementara medali emas diraih lifter Thailand Tanasan Sopita yang membukukan angkatan 200 kg.

Medali perunggu didapat oleh Miyake Hiromi dari Jepang dengan angkatan total 188 kg.

Wahyuni yang bobot badannya lebih ringan dari Tanasan, mencoba angkatan clean and jerk terakhir 115 kg untuk bisa meraih emas, namun gagal sehingga harus puas dengan medali perak.

Sri Wahyuni di Olimpiade 2016 REUTERS


"Sri Wahyuni memang banyak kemajuan, khususnya setelah kita berlatih di Afrika Selatan bulan lalu," kata manajer tim angkat besi Indonesia Alamsyah Wijaya. Demikian tulis Antara.

Pencapaian Sri Wahyuni merupakan persembahan medali pertama bagi Indonesia di ajang pesta olahraga sejagat itu. Kebahagiaan mojang Bandung ini semakin lengkap lantaran sebentar lagi dia berulang tahun yang ke-22.

"Saya senang bisa meraih perak jelang ulang tahun saya," kata atlet kelahiran Bandung, 13 Agustus 1994 itu.

Rio de Janeiro 2016 merupakan Olimpiade pertama yang diikutinya, namun sebelum tampil di ajang paling bergengsi tersebut. Dia sudah mencatat sejumlah prestasi, di antaranya medali perak Asian Games 2014, emas SEA Games 2013 serta juara di sejumlah turnamen tingkat internasional.

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bhayangkara Bekasi itu juga menyatakan siap untuk terus berkiprah dalam olahraga angkat besi, agar dapat meraih prestasi yang lebih baik lagi setelah mendapat medali perak Olimpiade ini.

Sementara itu, Eko dalam pertandingan di Pavilion 2 kompleks olahraga Riocentro tersebut mencatat angkatan total 312 kilogram, hasil dari snatch 142 kg dan clean and jerk 170 kg.


Eko Yuli Irawan di Olimpiade Rio Reuters/Yves Herman


Eko yang pada Olimpiade London 2016 mendapat perunggu itu, sempat mencoba 146 kg pada kesempatan kedua dan ketiga namun gagal.

Persaingan keras terjadi antara Eko dengan lifter Kolombia Figueroa Mosquera yang bobot tubuhnya lebih ringan.

Mosquera meraih emas dengan angkatan total 318 kg, sedangkan perunggu untuk lifter Kazakhstan Farkhad Kharky dengan angkatan 305 kg.

Pertandingan kelas 62 kg putra tersebut diwarnai dengan tersisihnya lifter China pemegang rekor dunia clean and jerk Chen Lijun.

Lifter China yang sempat difavoritkan tersebut mengalami cedera kaki kanan ketika mencoba angkatan snatch 143 kilogram.

Lifter Indonesia lainnya, Muhammad Hasbi, juga tampil di kelas 62 kilogram ini, namun ia gagal mencapai tiga besar, dengan angkatan total 290 kg.

Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi, Angkat Berat, dan Binaraga Seluruh Indonesia (PABBSI) akan berupaya mempertahankan eksistensi dalam perolehan medali di Olimpiade.

"Sejak Olimpiade Beijing 2008 hingga Rio 2016, kita selalu mendapat medali. Tradisi ini harus dipertahankan," kata Ketua Umum PB PABBSI Rosan P. Roeslani di Rio de Janeiro.

Mengenai bonus untuk peraih perak Olimpiade 2016, Rosan mengatakan bahwa selain yang sudah dijanjikan Kemenpora, PB PABBSI sendiri akan memberikan hadiah berupa rumah.

Komentar